Jurnal Salvation http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation <table border="1"> <tbody> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Original title</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Jurnal Salvation</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Short title</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Salvation</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Frequency</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> 2 issues per year (Januari and July)</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Acreditation</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Sinta 5</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>DOI</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> 10.56175/salvation</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>E-ISSN</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1526352281" target="_blank" rel="noopener">2623-193X</a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Editor-in-Chief</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Jefrie Walean, M.Th</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Publisher</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Language</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Indonesia, English</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <strong>Discipline</strong></td> <td> :</td> <td width="80%"> Theology, Religion, Christian Education</td> </tr> <tr> <td> <strong>Subject</strong></td> <td><strong> :</strong></td> <td> Humanities, Social Science, Education</td> </tr> </tbody> </table> <p><strong>Jurnal Salvation </strong>adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat.</p> <p><strong>Jurnal Salvation </strong>telah terakreditasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, dengan SK No. 225/E/KPT/2022, pada peringkat Sinta 5.</p> <p>Adapun ruang lingkup dari <strong>Jurnal Salvation</strong>:</p> <p><strong>1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)</strong><br /><strong>2. Teologi Sistematika</strong><br /><strong>3. Teologi Praktika</strong><br /><strong>4. Misiologi<br />5. Pendidikan Agama Kristen</strong><br /><br /><strong>JURNAL SALVATION, </strong>telah terindeks pada:<br /><strong>1. <a href="https://scholar.google.com/citations?hl=en&amp;authuser=1&amp;user=t9ig4jwAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a><br />2. <a href="https://search.crossref.org/?q=Jurnal+Salvation&amp;from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a><br />3. <a href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?search_mode=content&amp;and_facet_source_title=jour.1441969" target="_blank" rel="noopener">Dimension</a><br />4. <a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/24886" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a><br />5. <a href="https://www.scilit.net/articles/search?q=publisher_group_id%3A26339" target="_blank" rel="noopener">Scilit</a></strong></p> <p><iframe style="border: 0px #ffffff none;" src="https://author.my.id/widget/statistik.php?sinta=0&amp;gs=t9ig4jwAAAAJ&amp;sc=0&amp;link=" name="statistik" width="100%" height="250px" frameborder="0" marginwidth="0px" marginheight="0px" scrolling="no"></iframe></p> STT Bala Keselamatan Palu en-US Jurnal Salvation 2623-193X Menelisik Kontribusi Ayah dalam Menanamkan Kesabaran pada Anak di Keluarga Kristen http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/66 <p><strong>Abstract: </strong>Patience is important to be taught by fathers to their children because it is very relevant, has an impact on children's social emotional intelligence, and is related to children's success in the future. This article intends to examine the contribution of fathers in instilling patience in children in Christian families. By using the description method and supported by literature review, it is hoped that it can provide a clear, in-depth picture, and have an academic footing related to patience in the Bible description, the importance of patience for children, and the maximum contribution that fathers can make in instilling patience in children. It was concluded that fathers greatly contributed to instilling patience in children when actively involved in educating children, introducing patience as early as possible, understanding this is a long-term effort, a unique form of affection for children, and the closest example that can be imitated by children.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Kesabaran penting diajarkan oleh ayah kepada anaknya karena sangat relevan, berdampak pada kecerdasan sosial emosional anak, serta terkait dengan kesuksesan anak dimasa depan. Artikel ini bermaksud menelisik kontribusi ayah dalam menanamkan kesabaran pada anak di keluarga Kristiani. Dengan menggunakan metode deskripsi dan didukung oleh kajian literatur diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas, mendalam, serta memiliki pijakan akademik terkait dengan kesabaran dalam gambaran Alkitab, pentingnya kesabaran bagi anak, dan kontribusi maksimal yang ayah bisa berikan dalam menanamkan kesabaran pada anak. Disimpulkan bahwa ayah sangat berkontribusi dalam menanamkan kesabaran pada anak ketika terlibat aktif mendidik anak, memperkenalkan kesabaran sedini mungkin, memahami ini usaha jangka panjang, bentuk kasih sayang yang unik kepada anak, dan contoh paling dekat yang dapat ditiru oleh anak.</p> Kosma Manurung Jefrie Walean Copyright (c) 2023 Kosma Manurung, Jefrie Walean https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-26 2023-01-26 3 2 89 100 10.56175/salvation.v3i2.66 Menggagas Peranan Bimbingan Pranikah dalam upaya Mitigasi Konflik Mertua dan Menantu http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/74 <p><strong>Abstract: </strong>Conflict is often the cause of broken relationships in the household, including those related to parent in law and daughter in law or son in law. Conflicts between parent in law and daughter in law or son in law often occur in families where in-laws and sons-in-law live in the same house. Conflict arises because of differences due to differences in race, economy, social status, character, desires, and so on. This conflict will continue to arise if no efforts are made to mitigate or prevent the conflict. Therefore, the church must also care, and have a strategic role in mitigating the conflict by holding premarital guidance that specifically addresses the relationship between parent in law and daughter in law or son in law. The purpose of this research is how to initiate the role of premarital guidance in mitigating conflict between parent in law and daughter in law or son in law. This research method uses qualitative research with descriptive methods and literature review. Premarital guidance is a service carried out by the church in preparing prospective married couples who will enter marriage. Premarital counseling has an important role in mitigating in-law-daughter-in-law conflicts, because it serves as a vehicle for preparing prospective husband and wife by training them to become a family, and also as a means for learning conflict management. By learning conflict management, when a married couple will be able to wisely resolve conflicts. In addition, every married couple is also capable of having an attitude of peace with God, peace with oneself, peace with others and peace with the environment.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Konflik sering menjadi penyebab retaknya hubungan dalam rumah tangga, termasuk yang berhubungan dengan relasi mertua dan menantu. Konflik antara mertua dan menantu banyak terjadi pada keluarga di mana mertua dan menantu tinggal dalam satu rumah. Konflik muncul karena adanya perbedaan karena perbedaan RAS, ekonomi, status sosial, karakter, keinginan, dan lain sebagainya. Konflik ini akan terus muncul bila tidak dilakukan usaha mitigasi atau pencegahan terhadap konflik tersebut. Oleh karena itu gereja juga harus peduli, dan memiliki peran cukup strategi dalam upaya mitigasi konflik tersebut dengan mengadakan bimbingan pranikah yang khusus membahas relasi mertua dengan menantu. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana menggagas peranan bimbingan pranikah dalam memitigasi konflik antara mertua dan menantu. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dan kajian literatur. Bimbingan pranikah adalah sebuah layanan yang dilakukan oleh gereja dalam mempersiapkan calon pasangan suami istri yang akan memasuki pernikahan. Bimbingan pranikah memiliki peranan yang cukup penting dalam memitigasi konflik mertua dengan menantu, karena menjadi wadah dalam mempersiapkan calon pasangan suami istri dengan melatih diri mereka menjadi sebuah keluarga, dan juga sebagai sarana untuk belajar manajemen konflik. Dengan belajar manajemen konflik maka saat pasangan suami istri akan mampu dengan bijaksana menyelesaikan konflik. Selain itu, setiap pasangan suami istri juga mampu untuk mempunyai sikap berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan.</p> Dessy Ari Wardhani Andrias Pujiono Copyright (c) 2023 Dessy Ari Wardhani, Andrias Pujiono https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-26 2023-01-26 3 2 101 111 10.56175/salvation.v3i2.74 Makna Ketaatan Abraham dalam Mempersembahkan Ishak http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/67 <p><strong>Abstract: </strong>In Abraham's life, obedience was the principle that motivated his life. He willingly obeyed God, not out of law, but out of love. In the course of his life, Abraham was an obedient and God-fearing man. In addition, the story in Genesis chapter 22 becomes a severe test in Abraham's life, where God commanded Abraham to sacrifice his only son as a burnt offering (Gen 22:2a). This article aims to find the meaning of Abraham's obedience in offering Isaac in Genesis 22:1-19. The method used is narrative analysis. The result is in this case explaining how the life of Abraham who always feared God as evidence of faith in God. Abraham's life can be a guide for the Christian life today. In this context, Abraham is an example of faith, how people live in obedience to God by giving the best, namely the most beloved son in Abraham's life.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Dalam kehidupan Abraham, ketaatan merupakan prinsip yang memotivasi kehidupannya. Ia dengan rela menaati Allah, bukan karena hukum, melainkan karena kasih. Di dalam perjalanan hidupnya, Abraham adalah seorang yang taat dan takut kepada Tuhan. Selain itu, kisah di Kejadian pasal 22 menjadi ujian yang berat dalam hidup Abraham, dimana Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan anaknya yang tunggal menjadi kurban bakaran (Kej 22:2a). Artikel ini bertujuan menemukan makna ketaatan abraham dalam mempersembahkan ishak di Kejadian 22:1-19. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dekriptif dengan pendekatan hermeneutik analisa naratif. Hasilnya adalah dalam hal ini ini menjelaskan bagaimana ketaatan Abraham dalam mempersembahkan Ishak si Kejadian 22:1-19. Kehidupan Abraham yang taat akan Allah sebagai bukti iman kepada Allah. Kehidupan Abraham dapat menjadi pedoman bagi kehidupan orang Kristen pada zaman sekarang ini. Dalam konteks ini, Abraham menjadi contoh teladan iman, bagaimana umat hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dengan memberikan yang terbaik, yaitu anaknya yang paling dikasihi dalam hidup Abraham.</p> Solingkari Halawa Bobby Kurnia Putrawan Copyright (c) 2023 Solingkari Halawa, Bobby Kurnia Putrawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-26 2023-01-26 3 2 112 122 10.56175/salvation.v3i2.67 Konsep Mencapai Doa sebagai Persembahan yang Murni kepada Tuhan menurut St. Ishak dari Niniweh http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/72 <p><strong>Abstract: </strong>Talking about prayer may not always be interesting in certain circles to be discussed. Because it can be influenced by different paradigms or perceptions about prayer and then cause confusion. Prayers that you may be familiar with are expressing all requests and even giving thanks to God for all the goodness received. Even though the understanding of prayer that might be more specific is about building a relationship with God and fellowship with Him in prayer. There are also those who make prayer a tool to get what they want. And this is a mistake in understanding what prayer is like. The purpose of this writing is to contribute insights to readers, especially to practice true prayer. With the right understanding of prayer, of course the practice of prayer will be even better and not just a formality. This study uses the literary method, namely collecting data and collaborating with the theoretical basis to discuss the topic of discussion. As a result, prayer is a pure offering to be offered to God. Prayers that are done with full concentration in silence and wakefulness can make these prayers purer so that they are worthy of being an offering to God. So that when everyone correctly understands the meaning and purpose of this prayer, there will not be an act of prayer as a mere formality, or the perception that prayer is a spiritual activity to relate to God, but instead have the view that prayer can be a pure offering to God.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Berbicara mengenai doa mungkin tidak selalu menarik dalam beberapa kalangan tertentu untuk dibahas. Karena dapat saja dipengaruhi karena paradigma atau persepsi tentang doa yang berbeda-beda dan kemudian menimbulkan kebingungan. Doa yang mungkin familiar dikenal adalah mengutarakan segala permohonan bahkan mengucap syukur kepada Tuhan terhadap segala kebaikan yang diterima. Padahal pemahaman tentang doa yang mungkin lebih spesifik yakni tentang membangun relasi dengan Tuhan serta bersekutu dengan-Nya dalam doa. Ada juga yang menjadikan doa sebagai alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dan ini merupakan kekeliruan dalam memahami doa itu seperti apa. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih wawasan bagi para pembaca, terutama untuk mempraktikkan doa yang benar. Dengan pemahaman yang benar tentang doa, tentunya praktik doa akan semakin lebih baik dan tidak hanya sekadar formalitas. Penelitian ini menggunakan metode Literatur, yakni mengumpulkan data dan melakukan kolaborasi dengan landasan teori untuk membahas topik bahasan. Alhasil, doa merupakan persembahan yang murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Doa yang dilakukan dengan penuh kosentrasi dalam keheningan serta keterjagaan dapat menjadikan doa tersebut semakin murni hingga layak menjadi persembahan kepada Tuhan. Sehingga ketika setiap orang memahami dengan benar makna dan tujuan doa ini, maka tidak akan terjadi tindakan doa sekadar formalitas, atau persepsi bahwa doa merupakan kegiatan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan, melainkan memiliki pandangan bahwa doa dapat menjadi persembahan yang murni kepada Tuhan.</p> Cange Esra Runisi Gulo Copyright (c) 2023 Cange Esra Runisi Gulo https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-26 2023-01-26 3 2 123 131 10.56175/salvation.v3i2.72 Perspektif Alkitab terhadap Praktek Euthanasia http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/73 <p><strong>Abstract: </strong>Death is an event that must occur in the life of every human being. Although it is something that is certain but it remains a mystery, because only God Himself knows when a person will experience death. However, not a few people who want to end their lives because of various life problems or because of various diseases that do not go away so that to end their suffering they take suicide actions that are carried out by themselves or carried out with the help of others, in this case assisted by medical personnel. , where this action is known as euthanasia. This study examines the biblical perspective on euthanasia. The method used is qualitative with a literature study approach where the main source is the Bible, then assisted by literature, published journals so that they can answer the problem. The conclusion is that there is euthanasia that is not according to the Bible but there is also euthanasia that can be justified in Christian ethics, namely natural passive euthanasia, a decision not to give machines or tools so that patients who should have died naturally but survived. with the machine so that his life depends on the machine and not in the hands of God.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Kematian merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Meskipun itu adalah sesuatu yang pasti tetapi tetap merupakan sebuah misteri, sebab hanya Tuhan sendirilah yang tahu kapan seseorang itu akan mengalami kematian. Namun tidak sedikit orang yang ingin mengakhiri hidupnya karena berbagai persoalan hidup yang dialami ataupun karena berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh sehingga untuk mengakhiri penderitaannya ia mengambil tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh diri sendiri maupun dilakukan dengan bantuan orang lain, dalam hal ini dibantu oleh tenaga medis, di mana tindakan ini dikenal dengan sebutan eutanasia. Penelitian ini mengkaji bagaimana perspektif Alkitab terhadap eutanasia. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka di mana sumber utama adalah Alkitab, lalu dibantu literatur, jurnal yang terpublikasi sehingga dapat menjawab rumusan masalah. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa ada eutanasia yang tidak sesuai dengan Alkitab tetapi ada juga eutanasia yang dapat dibenarkan secara etika Kristen, yaitu eutanasia pasif alami, suatu keputusan untuk tidak memberikan mesin atau alat-alat sehingga pasien yang seharusnya sudah mati secara wajar tetapi dapat bertahan hidup dengan mesin sehingga hidupnya tergantung kepada mesin dan bukan di tangan Allah.</p> Hardi Halim Tjutjun Setiawan Copyright (c) 2023 Hardi Halim, Tjutjun Setiawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-26 2023-01-26 3 2 132 141 10.56175/salvation.v3i2.73 Mengikis Sikap Superioritas Beragama untuk Mencapai Persatuan Indonesia http://jurnal.sttbkpalu.ac.id/index.php/salvation/article/view/76 <p><strong>Abstract: </strong>This paper was elaborated by the researchers because in fact there are individuals who practice religion by showing their superior attitude that their belief is more correct or they are much better than others and this is characterized by an arbitrary attitude towards other religions. This paper used a qualitative method with a literature approach. Through this writing topic, the author described about eroding the attitude of superiority as a form of the practice of Pancasila in the principle of "Unity of Indonesia". It can be concluded from the results of the description on this topic that to erode the attitude of superiority in practicing the principle of the “Unity of Indonesia” and the norms contained therein, what needs to be done as an Indonesian society is to implement the religious values in unity as mandated by Pancasila and believers must also exhibit behavior and attitudes in accordance to unity and harmony so as to build the value of togetherness in line with the content contained in the points and values of Pancasila.<br /><br /><strong>Abstrak: </strong>Tulisan ini diuraikan oleh peneliti karena melihat secara faktual adanya oknum-oknum menjalankan agamanya dengan menunjukkan bahwa sikap Superioritas dalam beragama dimana keyakinannya lebih benar atau sikap perasaan lebih segalanya dari orang lain dan ini ditandai oleh sikap sewenang-wenang terhadap agama lain. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literatur. Melalui topik penulisan ini penulis mendeskripsikan tentang mengikis sikap superioritas sebagai ujut dalam pengamalan Pancasila dalam sila “Persatuan Indonesia”. Dapat disimpulkan dari hasil uraian pada topik ini bahwa untuk mengikis sikap superioritas dalam mengamalkan sila Persatuan Indonesia dan norma yang terkandung di dalamnya maka yang perlu dilakukan sebagai masyarat Indonesia mengimplementasikan nilai agamanya dalam persatuan sebagaimana mandat pancasila dan orang percaya juga harus mengejawantahkan perilaku dan sikap tentang persatuan dan kerukunan sehingga dapat membangun nilai kebersamaan yang selaras dengan muatan yang terkandung dalam butir-butir dan nilai-nilai ajar Pancasila.</p> Kaleb Ginting Simon Simon Copyright (c) 2023 Kaleb Ginting, Simon Simon https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2023-01-28 2023-01-28 3 2 142 151 10.56175/salvation.v3i2.76